Rabu, 19 Maret 2014

Ayo dong, MOVE ON !!!



Malam ini, entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk memekik sedikit senyum dari bibirku. Aku malas bergerak, bahkan rasanya jarum di benda bulat yang ada di kamarku itu pun mendadak berhenti. Hari ini adalah hari ulang tahunku, dan tepat di tanggal yang sama juga kamu terakhir sms aku dan bilang:
Din, I’m sorry.. I will always love you. But, we can’t together again”
            Masih terekam jelas dalam memory ku. Sms terakhirmu itu sangat membuat hatiku berkecamuk dan bertanya-tanya apa salahku? Hingga kamu tega seperti itu pada kekasihmu sendiri. Sudah ribuan kali sejak kita putus hingga sekarang, aku sms kamu, aku tanya kabarmu lewat teman-temanmu, aku buka sosial media facebook hingga twitter, masih tetap saja tak memberi jawaban, dia hilang bagai ditelan bumi. Ingin rasanya aku menaruh memory otakku di card reader. Agar aku bisa melihat kembali, apa salahku. Kamu dimana? Kamu kenapa? Kok kamu tega ninggalin aku?
          Hingga malam ini, aku pergi ke sebuah toko untuk membeli roti bersama sahabatku Dina. Saat diperjalanan menuju toko, tiba-tiba Dina memegang tanganku erat sekali hingga mengagetkanku yang dari tadi melamun. “Ada apa sih Din?” tanyaku. “Intan, gue mau ngasih tau lo sesuatu, tapi please jangan sedih yaa?” kata Dina membuatku penasaran. Aku hanya menganggukan kepala yang berarti tanda mengiyakan.
Lalu Dina meluruskan pandanganku ke arah kafe kecil dipinggir jalan. Terlihat seorang laki-laki berpostur tinggi dengan seorang wanita cantik berambut panjang. Sontak saja aku terkejut melihat laki-laki itu yang ternyata adalah Raka, mantan kekasihku yang pergi meninggalkanku. “Itu Raka? Mengapa dia sama perempuan lain? Dia tega ninggalin aku cuma demi perempuan itu? Apa karna aku kurang cantik?” pertanyaan memenuhi benakku.
Seketika air mata membanjiri wajahku, dan aku berlari meninggalkan tempat itu. Aku sakit, hatiku remuk. Aku bingung, apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku mendatang Raka dan membicarakan apa yang ia lakukan kepadaku sangat membuatku hancur berkeping-kepinng? Setiap hari selama 3 bulan aku selalu memikirkannya, bahkan aku cuti kuliah hanya karna memori otakku yang selalu mengingatkanku kejadian saat bersamanya. Kamu jahat Raka. Kamu tega ninggalin aku hanya karna wanita itu.
“Intan, gue masuk yaa?” terdengar suara Dina dari luar pintu kamarku. “Iya din” kataku dengan suara pelan. “Yaampun ntan, lu gausah nangis terus deh. Lu mikirin Raka lagi ya? Eh lu tau ga sih, lu tuh mikirin dia buat apa? Toh Raka juga ga bakalan balik lagi sama lu. Udah deh sekarang gausah mikirin Raka, belom tentu dia juga mikirin lu. Liat deh tadi aja dia malah berduaan sama cewek lain di kafe” kata Dina berusaha menguatkanku. Tanpa menjawab sepatah katapun aku menangis lebih keras lagi untuk mengeluarkan semua perasaanku.
Keesokan harinya..
          Aku ingin memulai hari ku dengan senyum tanpa tangis sedikitpun. Aku mengambil semua foto-fotoku bersama Raka, boneka dari Raka, baju dari Raka, bunga dari Raka dan hal-hal tentang Raka ingin aku kubur dalam-dalam. “Pak Tarmin” teriakku memanggil tukang kebun dirumahku. “Iya ada apa mbak Intan?” tanya pak Tarmin dengan logat jawanya. “Ini pak, aku mau kubur barang-barang ini, tolong gali tanah di kebun belakang yaa” kataku. “Hah? Mbak yakin? Ini kan barang kesayangan Mbak Intan dari Mas Raka” kata Pak Tarmin heran. “Ssttt.. bapak gausah sebut nama itu lagi pak, saya mau lupain dia, saya mau Move On pak” kataku meyakinkan Pak Tarmin. “Oh iya deh mbak saya langsung gali tanahnya” kata Pak Tarmin seraya pergi meninggalkanku.
          Tak lama, aku pergi ke kebun belakang. Disana terlihat sebuah lubang yang cukup dalam, kira-kira 1 meter dalamnya. Dengan perlahan aku menaruh barang-barang itu kedalam lubang. “Selamat tinggal Ka” kataku lirih dengan air mata yang sudah membendung di bola mataku. Dan akhirnya air mata itu terjatuh saat aku hendak menutup lubang itu dengan setumpukan tanah. Huh aku menangis lagi, dan itu akan menjadi air mata terakhir yang aku keluarkan untuk Raka.
          Mulai detik ini, aku tidak akan pernah menangis lagi untuk Raka. Selama 3 bulan, hanya cara ini yang benar-benar bisa membuatku melupakan segala memory tentang Raka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar