Malam
ini, entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk memekik sedikit senyum dari
bibirku. Aku malas bergerak, bahkan rasanya jarum di benda bulat yang ada di
kamarku itu pun mendadak berhenti. Hari ini adalah hari ulang tahunku, dan
tepat di tanggal yang sama juga kamu terakhir sms aku dan bilang:
“ Din,
I’m sorry.. I will always love you. But, we can’t together again”
Masih terekam jelas
dalam memory ku. Sms terakhirmu itu sangat membuat hatiku berkecamuk dan
bertanya-tanya apa salahku? Hingga kamu tega seperti itu pada kekasihmu
sendiri. Sudah ribuan kali sejak kita putus hingga sekarang, aku sms kamu, aku
tanya kabarmu lewat teman-temanmu, aku buka sosial media facebook hingga
twitter, masih tetap saja tak memberi jawaban, dia hilang bagai ditelan bumi.
Ingin rasanya aku menaruh memory otakku di card reader. Agar aku bisa melihat
kembali, apa salahku. Kamu dimana? Kamu kenapa? Kok kamu tega ninggalin aku?
Hingga malam ini, aku pergi ke sebuah toko untuk membeli
roti bersama sahabatku Dina. Saat diperjalanan menuju toko, tiba-tiba Dina
memegang tanganku erat sekali hingga mengagetkanku yang dari tadi melamun. “Ada
apa sih Din?” tanyaku. “Intan, gue mau ngasih tau lo sesuatu, tapi please
jangan sedih yaa?” kata Dina membuatku penasaran. Aku hanya menganggukan kepala
yang berarti tanda mengiyakan.
Lalu
Dina meluruskan pandanganku ke arah kafe kecil dipinggir jalan. Terlihat
seorang laki-laki berpostur tinggi dengan seorang wanita cantik berambut
panjang. Sontak saja aku terkejut melihat laki-laki itu yang ternyata adalah
Raka, mantan kekasihku yang pergi meninggalkanku. “Itu Raka? Mengapa dia sama
perempuan lain? Dia tega ninggalin aku cuma demi perempuan itu? Apa karna aku
kurang cantik?” pertanyaan memenuhi benakku.
Seketika
air mata membanjiri wajahku, dan aku berlari meninggalkan tempat itu. Aku
sakit, hatiku remuk. Aku bingung, apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku
mendatang Raka dan membicarakan apa yang ia lakukan kepadaku sangat membuatku
hancur berkeping-kepinng? Setiap hari selama 3 bulan aku selalu memikirkannya,
bahkan aku cuti kuliah hanya karna memori otakku yang selalu mengingatkanku
kejadian saat bersamanya. Kamu jahat Raka. Kamu tega ninggalin aku hanya karna
wanita itu.
“Intan,
gue masuk yaa?” terdengar suara Dina dari luar pintu kamarku. “Iya din” kataku
dengan suara pelan. “Yaampun ntan, lu gausah nangis terus deh. Lu mikirin Raka
lagi ya? Eh lu tau ga sih, lu tuh mikirin dia buat apa? Toh Raka juga ga
bakalan balik lagi sama lu. Udah deh sekarang gausah mikirin Raka, belom tentu
dia juga mikirin lu. Liat deh tadi aja dia malah berduaan sama cewek lain di
kafe” kata Dina berusaha menguatkanku. Tanpa menjawab sepatah katapun aku
menangis lebih keras lagi untuk mengeluarkan semua perasaanku.
Keesokan
harinya..
Aku ingin memulai hari ku dengan senyum tanpa tangis
sedikitpun. Aku mengambil semua foto-fotoku bersama Raka, boneka dari Raka,
baju dari Raka, bunga dari Raka dan hal-hal tentang Raka ingin aku kubur
dalam-dalam. “Pak Tarmin” teriakku memanggil tukang kebun dirumahku. “Iya ada
apa mbak Intan?” tanya pak Tarmin dengan logat jawanya. “Ini pak, aku mau kubur
barang-barang ini, tolong gali tanah di kebun belakang yaa” kataku. “Hah? Mbak
yakin? Ini kan barang kesayangan Mbak Intan dari Mas Raka” kata Pak Tarmin heran.
“Ssttt.. bapak gausah sebut nama itu lagi pak, saya mau lupain dia, saya mau
Move On pak” kataku meyakinkan Pak Tarmin. “Oh iya deh mbak saya langsung gali
tanahnya” kata Pak Tarmin seraya pergi meninggalkanku.
Tak lama, aku pergi ke kebun belakang. Disana terlihat
sebuah lubang yang cukup dalam, kira-kira 1 meter dalamnya. Dengan perlahan aku
menaruh barang-barang itu kedalam lubang. “Selamat tinggal Ka” kataku lirih
dengan air mata yang sudah membendung di bola mataku. Dan akhirnya air mata itu
terjatuh saat aku hendak menutup lubang itu dengan setumpukan tanah. Huh aku
menangis lagi, dan itu akan menjadi air mata terakhir yang aku keluarkan untuk
Raka.